Kemiskinan menjadi semakin sering dibicarakan karena adanya peningkatan jumlah penduduk miskin yang cukup tajam yang diakibatkan oleh krisis ekonomi tersebut. Kemiskinan di Indonesia sekarang ini telah menjadi suatu masalah nasional yang bahkan pemerintahpun tengah mengupayakan usaha pengentasan penduduk Indonesia dari masalah kemiskinan. Kemiskinan adalah masalah yang mempunyai keterikatan terhadap masalah-masalah sosial di Indonesia. Strategi untuk mengatasi krisis kemiskinan tidak dapat lagi dilihat dari satu dimensi saja (pendekatan ekonomi), tetapi memerlukan diagnosa yang lengkap dan menyeluruh (sistemik) terhadap semua aspek yang menyebabkan kemiskinan secara lokal. Kajian secara ilmiah terhadap berbagai fenomena yang berkaitan dengan kemiskinan, seperti faktor penyebab proses terjadinya kemiskinan atau pemiskinan dan indikator-indikator dalam pemahaman gejala kemiskinan serta akibat-akibat dari kemiskinan itu sendiri, perlu dilakukan. Oleh karena itu, pemerintah kabupaten/kota dengan dibantu para peneliti perlu mengembangkan sendiri sistem pemantauan kemiskinan di daerahnya, khususnya dalam era otonomi daerah sekarang. Para peneliti tersebut tidak hanya dibatasi pada disiplin ilmu ekonomi, tetapi juga disiplin ilmu sosiologi, ilmu antropologi, dan lainnya.

Ukuran-ukuran kemiskinan yang dirancang di pusat belum sepenuhnya memadai dalam upaya pengentasan kemiskinan secara operasional di daerah. Sebaliknya, informasi-informasi yang dihasilkan dari pusat tersebut dapat menjadikan kebijakan salah arah karena data tersebut tidak dapat mengidentifikasikan kemiskinan sebenarnya yang terjadi di tingkat daerah yang lebih kecil. Oleh karena itu, di samping data kemiskinan makro yang diperlukan dalam sistem statistik nasional, perlu juga diperoleh data kemiskinan (mikro) yang spesifik daerah. Namun, sistem statistik yang dikumpulkan secara lokal tersebut perlu diintegrasikan dengan sistem statistik nasional sehingga keterbandingan antarwilayah, khususnya keterbandingan antarkabupaten dan provinsi dapat tetap terjaga. Dalam membangun suatu sistem pengelolaan informasi yang berguna untuk kebijakan pembangunan kesejahteraan daerah, perlu adanya komitmen dari pemerintah daerah dalam penyediaan dana secara berkelanjutan. Dengan adanya dana daerah untuk pengelolaan data dan informasi kemiskinan, pemerintah daerah diharapkan dapat mengurangi pemborosan dana dalam pembangunan sebagai akibat dari kebijakan yang salah arah, dan sebaliknya membantu mempercepat proses pembangunan melalui kebijakan dan program yang lebih tepat dalam pembangunan.

Pendekatan yang dipakai pemerintah selama ini lebih mementingkan target-target angka untuk mencapai tujuan penanggulangan kemiskinan. Tanpa tujuan yang pasti dan disepakati bersama oleh berbagai pelaku (stakeholder), maka pelaksanaan program penanggulangan kemiskinan hanya sekedar memenuhi target-target yang bersifat sektoral belaka. Pada dasarnya ada dua faktor penting yang dapat menyebabkan kegagalan program penanggulangan kemiskinan di Indonesia. Pertama, program- program penanggulangan kemiskinan selama ini cenderung berfokus pada upaya penyaluran bantuan sosial untuk orang miskin.Hal itu, antara lain, berupa beras untuk rakyat miskin dan program jaring pengaman sosial (JPS) untuk orang miskin. Upaya seperti ini akan sulit menyelesaikan persoalan kemiskinan yang ada karena sifat bantuan tidaklah untuk pemberdayaan, bahkan dapat menimbulkan ketergantungan. Program-program bantuan yang berorientasi pada kedermawanan pemerintah ini justru dapat memperburuk moral dan perilaku masyarakat miskin. Program bantuan untuk orang miskin seharusnya lebih difokuskan untuk menumbuhkan budaya ekonomi produktif dan mampu membebaskan ketergantungan penduduk yang bersifat permanen.

Program-program bantuan sosial ini juga dapat menimbulkan korupsi dalam penyalurannya. Alangkah lebih baik apabila dana-dana bantuan tersebut langsung digunakan untuk peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM), seperti dibebaskannya biaya sekolah, seperti sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP), serta dibebaskannya biaya- biaya pengobatan di pusat kesehatan masyarakat (puskesmas). Faktor kedua yang dapat mengakibatkan gagalnya program penanggulangan kemiskinan adalah kurangnya pemahaman berbagai pihak tentang penyebab kemiskinan itu sendiri sehingga program-program pembangunan yang ada tidak didasarkan pada isu-isu kemiskinan, yang penyebabnya berbeda-beda secara lokal.

Membangun Keluarga Kembali

Posted by: itai08 in Academic No Comments »

Idealnya sebuah keluarga adalah setiap kelompok atau individu yang menyediakan lingkungan yang aman dan percaya yang mendorong pembelajaran dan perkembangan yang sehat. Namun, tidak ada keluarga yang kebal terhadap konflik, tantangan, atau stres, dan sayangnya, tidak semua keluarga angkat yang aman dan sehat lingkungan. Kebanyakan orang tidak tumbuh dalam ‘ideal’ keluarga, namun ikatan terbentuk dalam keluarga penting. Bahkan keluarga dengan konflik dan kesulitan dapat belajar untuk mengembangkan dan mempromosikan kesehatan mental dan kesejahteraan sebagai individu dan dalam sistem keluarga.

Mengembangkan ketahanan keluarga dapat dilakukan setiap saat dalam siklus kehidupan keluarga. Jadi, tidak peduli jika Anda memiliki keluarga dengan dua anak kecil atau sebuah keluarga dengan anak-anak dewasa yang mulai keluarga mereka sendiri, mengembangkan ketahanan adalah mungkin dan berguna. Itu strategi berikut ini berguna dalam mengembangkan ketahanan dalam keluarga,Di atas semuanya, waktu keluarga yang positif, reflektif, sehat, menyenangkan dan konstruktif sangat penting untuk mempromosikan dan mengembangkan ketahanan. Dengan ketidakpastian ekonomi saat ini baik dalam kita sendiri masyarakat dan global, tetap terhubung dan terfokus pada keluarga kita adalah penting dan positif bagi mental kita, fisik, emosional, kesehatan rohani dan kesejahteraan.
Hubungan positif dalam keluarga adalah faktor yang paling penting yang mengarah ke ketahanan. Keluarga yang ulet dapat bersama-sama untuk melihat tantangan dan krisis dengan kepercayaan diri dan melihat tantangan sebagai kesempatan untuk tumbuh, menyembuhkan dan menguatkan mereka hubungan. Penelitian telah menemukan bahwa ulet, keluarga sehat ada 10 ciri-ciri umum yang membantu mereka berkembang mereka adalah : 1). Pandangan positif dan spiritualitas, 2). Anggota keluarga sesuai dan fleksibilitas, 3). komunikasi dan keuangan, 4). Meluangkan  waktu bersama  untuk rekreasi bersama, 5). Rutinitas dan ritual serta 6). dukungan sosial untuk dapatkan Aktif, rekreasi, dan santai! Menjadi aktif sebagai keluarga tidak hanya sehat, tapi menyenangkan dan menyenangkan.

Untuk mendapatkan aktif, rekreasi dan santai coba: a). Mengajak  keluarga  untuk berjalan ke taman. Melempar bola, bermain Frisbee, ayunan atau hanya duduk di rumput. Keluar dan menikmati sehari di taman akan membantu jelas pikiran Anda, membakar beberapa energi, dan meningkatkan kualitas waktu keluarga yang murah, b). Pergi naik kereta atau hal naik eretan atau bahkan hanya untuk berjalan-jalan di ringan, c). Periksa pusat komunitas lokal Anda atau fasilitas olahraga untuk melihat apa jenis program atau kegiatan yang ditawarkan untuk keluarga. Keluarga berenang malam, buka gym atau kerajinan dan aktivitas kelas-kelas yang besar cara untuk menikmati waktu bersama yang menyenangkan, santai lingkungan. Jenis tamasya juga membuat Anda tetap terhubung ke masyarakat, d.) Rencanakan piknik keluarga. Pilih sebuah tujuan, dekat atau jauh, kemasan makanan dan minuman (terutama air jika panas!) dan pergi untuk piknik keluarga. Piknik adalah cara yang bagus untuk menjadi aktif dan sadar gizi sambil menikmati manfaat kesehatan mental menghabiskan waktu bersama-sama dengan orang yang Anda cintai. Tetap terhubung di rumah. e). Sisihkan 1-2 malam dalam seminggu di mana Anda memasak sebagai sebuah keluarga.

Sangat menyenangkan dan mendapat keluarga bersama-sama pada waktu yang sama di lokasi yang sama. Cobalah masakan yang berbeda, atau punya tema makan malam untuk Anda (misalnya, Yunani makanan malam, atau pizza aneh malam) dan memiliki semua anggota keluarga berperan dalam makanan dan menyiapkan makanan Makan bersama-sama! Makan bersama adalah salah satu cara terbaik bagi keluarga untuk tetap terhubung satu sama lain. Makan bersama keluarga memungkinkan untuk membuka komunikasi dan kesempatan untuk berbagi apa yang telah terjadi satu sama lain dalam sebuah sosial, keluarga yang berpusat lingkungan. Adakan pertemuan keluarga untuk merencanakan minggu Anda bersama-sama. Hal ini penting untuk mengetahui masing-masing lain jadwal dan menawarkan dukungan dan membantu satu sama lain jika ada konflik atau masalah muncul. Pertemuan keluarga adalah cara yang bagus untuk mempromosikan demokrasi keluarga, berbagi kepemimpinan, dan mengembangkan keterampilan negosiasi untuk menyelesaikan konflik.  Bermain bersama-sama! Permainan papan dan permainan kartu yang sangat menyenangkan untuk seluruh keluarga dan dapat dengan mudah disesuaikan dengan usia dan tingkat keterampilan dalam keluarga. Permainan dapat dimainkan dalam tim atau sebagai individu dan yang besar untuk mempromosikan kerja sama tim dan kejujuran. Permainan juga membantu untuk mengembangkan kepercayaan diri, dan keterampilan sosial yang penting seperti aturan berikut, dan mampu menang dan kalah dengan baik.

Dalam memahami perkembangan cognitive maka, terdapat dua pandangan yang dapat menjelaskan, pertama menekankan pada faktor biologis dan kedua menekankan pada faktor lingkungan sosial, yang nantinya akan disebut dengan sociocutural perspective. Kemudian pendekatan sociocultural ini digali lebih dalam lagi oleh seorang psikolog Rusia yang ahli dalam bidang perkembangan dan pendidikan, ia bernama Lev Vygostky (1896-1934). Menurutnya bahwa perkembangan potensi intelektual sangat dipengaruhi oleh orang-orang yang ada di lingkungan sosial budayanya.

Vygotsky adalah pengagum Piaget. Ia setuju dengan teori perkembangan kognitif Piaget yang melihat perkembangan kognitf terjadi secara bertahap dan dicirikan dengan gaya berfikir yang berbeda-beda untuk setiap orang. Namun ia tidak setuju dengan pendapatnya bahwa anak menjelajahi dunianya sendirian dan membentuk gambara realitas batinnya sendiri.

Konsep Sosiokultura

Pandangan sosiokultural berpendapat bahwa manusia itu akan terus berkembang berkembang, khususnya bagaimana anak belajar dan berpikir. Fungsi lingkungan sosiokultural adalah mengoptimalkan perkembangan kognitif anak. Menurut teori ini perkembangan kognisi manusia tidak dapat dipisahkan dari konteks budaya. Stimulasi sosiokultural ini didapat anak dari orangtua, teman peer group, anggota masyarakat melalui kontak sehari-hari. Melalui proses ini proses intelektual ini akhirnya anak akan mampu menyelesaikan tugas atau masalah yang dihadapinya.

Pandangan sosiokultural ini mempelajari bagaimana anak memahami dan befungsi dalam lingkungan sosialnya secara tepat. Dalam hal ini anak memahami dunia di sekelilingnya tergantung dari pengetahuan budaya dimana ia tinggal. Namun disadari juga bahwa kemampuan kognisi tertentu muncul dalam lingkungan sosial tertentu. Seperti yang diungkapkan Mary Gauvin’s (2001) perkembangan kognisi adalah proses konstruktif aktif yang meilbatkan mahkluk untuk berkembang, hidup dan belajar dalam konteks sosial dengan mahkluk berpikir lainnya.

Pandangan sosiokultural dalam konteks psikologi perkembangan adalah mempelajari bagaimana perkembangan kognitif anak ketika ia berinteraksi dengan dengan konteks lingkungan budaya. Dampak dari proses interkasi akan menentukan bagaimana perkembangan kognitif anak.

Menurut Vygotsky perkembangan kognisi seorang anak dapat terjadi melalui kolaborasi antar anggota dari satu generasi keluarga dengan yang lainnya. Perkembangan anak terjadi dalam budaya dan terus berkembang sepanjang hidupnya dengan berkolaborasi dengan yang lain. Dari perspektif ini para penganut aliran sosiokultural berpendapat bahwa sangatlah tidak mungkin menilai seseorang tanpa mempertimbangkan orang-orang penting di lingkungannya.

Banyak ahli psikologi perkembangan yang sepaham denga konsep yang diajukan Vygotsky. . Teorinya yang menjelaskan tentang potret perkembangan manusia sebagai sesuatu yang tidak terpisahkan dari kegiatan-kegiatan sosial dan budaya. Ia menekankan bahwa proses-proses perkembangan mental seperti ingatan, perhatian, dan penalaran melibatkan pembelajaran dengan orang –orang yang ada di lingkungan sosialnya. Selain itu ia juga menekankan bagaimana anak-anak dibantu berkembang dengan bimbingan dari orang-orang yang sudah terampil di dalam bidang-bidang tersebut.

Menurut Vygotsky, anak-anak lahir dengan fungsi mental yang relatif dasar seperti kemampuan untuk memahami dunia luar dan memusatkan perhatian. Namun, ia dapat mengoptimalkan kemampuannya dengan melibatkan fungsi-fungsi mental lebih tinggi yang dianggap sebagai ”alat kebudayaan” tempat individu hidup dan alat-alat itu berasal dari budaya. Alat-alat itu diwariskan pada anak-anak oleh anggota-anggota kebudayaan yang lebih tua selama pengalaman pembelajaran yang dipandu. Pengalaman dengan orang lain secara berangsur menjadi semakin mendalam dan membentuk gambaran batin anak tentang dunia.

Vygotsky dalam teorinya menekankan level konteks sosial yang bersifat institusional maupun level konteks sosial yang bersifat interpersonal. Pada level institusional, sejarah kebudayaan menyediakan organisasi dan alat-alat yang berguna bagi aktivitas kognitif melalui institusi seperti sekolah, penemuan seperti komputer, dan melek huruf. Interaksi institusional memberi kepada anak suatu norma-norma perilaku dan sosial yang luas untuk membimbing hidupnya. Level interpersonal memiliki suatu pengaruh yang lebih langsung pada keberfungsian mental anak. Menurut vygotsky (1962), keterampilan-keterampilan dalam keberfungsian mental berkembang melalui interaksi sosial langsung. Informasi tentang alat-alat, keterampilan-keterampilan dan hubungan-hubungan interpersonal kognitif dipancarkan melalui interaksi langsung dengan manusia. Melalui pengorganisasian pengalaman-pengalaman interaksi sosial yang berada di dalam suatu latar belakang kebudayaan ini, perkembangan mental anak-anak menjadi matang.

Peran Budaya dalam Perkembangan Kognisi

Vygotsky berpendapat bahwa perkembangan harus dilihat dari perspektif 4 tahap yang saling berhubungan dalam interaksi anak dengan lingkungan:

  1. Perkembangan Ontogenic

Perkembangan individu sepanjang hayat , digunakan oleh hampir semua ahli psikologi dalam menganalisa perkembangan manusia

  1. Perkembangan Microgenic

Mengacu pada perubahan yang terjadi pada waktu yang relatif singkat, misalnya perubahan yang dapat dilihat pada saat anak memecahkan masalah penjumlahan pada setiap minggunya selama 11 minggu (Siegler & Jenkins, 1989). Contoh lain adalah perubahan pada penggunaan strategi memori yang digunakan anak dalam mengingat 5 hal dalam 20 menit.

  1. Perkembangan Phylogenic

Perubahan yang berskala evolusi, diukur dalam ribuan dan bahkan jutaan tahun. Vygostsky sendiri berpendapat bahwa untuk pemahaman sejarah spesies dapat memberikan masukan pada perkembangan anak.

  1. Perkembangan Sociohistorical

Mengacu pada perubahan yang terjadi pada budaya, kepercayaan, norma, dan teknologi. Misalnya, anak yang tumbuh di negara-negara barat, sekarang ini sudah mengenal komputer, hukum, dan tradisi hak-hak manusia yang mempengaruhi perkembangan mereka dan ini membedakan mereka dari anak-anak yang tidak tumbuh dalam kondisi yang sama (dan sebaliknya).